Si Kurus, Pemain Berlabel Miliaran Namun Hancur Sebab Obat-Obatan Terlarang

By | Agustus 10, 2019

Hanya ada tiga mimpi yang diinginkan oleh Kurniawan Dwi Yulianto dikala menjadi pesepakbola yaitu masuk televisi, naik pesawat terbang gratis dan ke luar negeri gratis. Mimpinya yang sangat simple ternyata tak se-simple skill yang dimiliki. Kecepatan, kecerdasan dan gocekan ciamik menggambarkan jikalau Kurniawan sebagai striker yang menakutkan. Danurwindo, mantan instruktur yang pernah mengurus laki-laki yang mempunyai julukan Si Kurus ini menyamakan tipikal permainannya ibarat Marco Van Basten!

Kurniawan muda sangatlah mematikan sebagai striker. Pria kelahiran 13 July 1976 ini terpilih dalam anggota PSSI Primavera yang diberangkatkan ke Italia guna menimba ilmu sepakbola. Bersama dengan Kurnia Sandy dan Bima Sakti, Kurniawan mendapat pembekalan sebagai pesepakbola yang matang hingga tergabung ke Sampdoria.

Berbicara soal Kurniawan, bekerjsama berbicara tentang wonderkid Indonesia yang tak sanggup berkembang ibarat yang diharapkan. Beberapa tahun berselang, nama Syamsir Alam pun juga mendapat gejolak demikian, pemain yang malang melintang di liga luar ini kini banting stir ke dunia entertainment karena merasa ada permasalahan dalam dirinya ketika di lapanganKini ada nama Egy Maulana Vikri yang semoga saja bisa menjawab mimpi Indonesia untuk berlaga di pentas dunia.

Balik lagi ke Kurniawan, namanya memang meredup sehabis kembali ke Indonesia. Tetapi ada beberapa fakta yang mungkin bung belum dengar, pemain yang dipuji Sven Goran-Eriksson hingga menciptakan gempar media Swiss ini hampir menjawab mimpi Indonesia. Sayang dunia malam harus merenggut jalan panjang karirnya.

Kurniawan Muda Layak Dihargai 3 hingga 4 Milliar Rupiah!

Hanya ada tiga mimpi yang diinginkan oleh Kurniawan Dwi Yulianto dikala menjadi pesepakbola  Si Kurus, Pemain Berlabel Miliaran Namun Hancur Karena Obat-Obatan Terlarang

Hanya butuh waktu setahun sehabis diberangkatkan dalam kegiatan PSSI Primavera ke Italia, Kurniawan mencuri perhatian pemandu talenta dan wartawan. Puncak namanya dikenal sehabis berlaga dalam turnamen Mantova pada 1994. Membuatnya direkrut ke Sampdoria yang ingin tau akan talenta yang dimiliki Si Kurus.

Selama menjalani percobaan di Sampdoria ia mendapat kebanggaan dari Attillo Lombrado, bintang Sampdoria, Sven Goran-Eriksson si instruktur kawakan hingga Romano Matte yang dikala itu menjabat sebagai instruktur timnas di Italia. Fantastisnya, Matte menyampaikan bahwa pemain ibarat Kurniawan layak dihargai 3,5 hingga 4,5 Milliar Rupiah! Complimento.

Menghiasi Halaman Utama Surat Kabar Swiss Lewat Torehan dan Aksinya

Hanya ada tiga mimpi yang diinginkan oleh Kurniawan Dwi Yulianto dikala menjadi pesepakbola  Si Kurus, Pemain Berlabel Miliaran Namun Hancur Karena Obat-Obatan Terlarang

Sumber : Goal.com

Banjir kebanggaan di Sampdoria ternyata tak menciptakan karirnya berjalan mulus di sana, alasannya ia pun tak pernah bermain di sana sebagai pemain profesional. Tapi talenta Kurniawan membawanya terbang ke Swiss untuk memperkuat FC Luzern selama satu animo 1994/95.

Meskipun hanya bermain dalam 12 pertandingan, Kurniawan menorehkan sejarah gres bagi persepakbolaan Indonesia kala itu dengan menjadi pemain Indonesia pertama yang mencetak gol di kompetisi Eropa dikala usianya masih menginjak 19 tahun.

FC Luzern dikala itu bertemu dengan klub terbesar Swiss FC Basel, ditrunkan menjadi starter tak disia-siakan Kurniawan ia eksklusif menceploskan bola ke gawang FC Basel. Pluit panjang pun dibunyikan FC Luzern unggul 2-1. Keesokan harinya, nama Kurniawan menggema dengan berada di halaman kabar utama surat kabar Swiss.

Menimba Ilmu di Eropa, Dipratekkan di Indonesia

Hanya ada tiga mimpi yang diinginkan oleh Kurniawan Dwi Yulianto dikala menjadi pesepakbola  Si Kurus, Pemain Berlabel Miliaran Namun Hancur Karena Obat-Obatan Terlarang

Sumber : Bola.net

Sepulangnya dari FC Luzern, Kurniawan kembali ke Indonesia dengan menjajaki pemain sebagai pemain profesional di tanah airnya. Pemain kelahiran Magelang ini pun memperkuat banyak klub, ibarat Pelita Bakrie, PSM Makassar, Perjisa Jakarta, PSPS Pekanbaru, Persebaya Suraba dan yang lainnya.

Liga Indonesia animo 1999/00 ia mengantar PSM Makassar menjadi juara liga. Kemudian di tahun 2004 giliran Persebaya yang ia antar menuju tangga juara. Di usianya sudah tak lagi muda ia pun sempat membawa Persitara Jakarta Utara promosi ke Indonesia Super League di tahun 2008, nama liga tertinggi Indonesia dikala itu. Selain itu ia pun sempat mampir ke negeri tetangga dengan memperkuat Sarawak FA, Malaysia.

Bersinar Dengan Indonesia di Ajang Piala AFF

Hanya ada tiga mimpi yang diinginkan oleh Kurniawan Dwi Yulianto dikala menjadi pesepakbola  Si Kurus, Pemain Berlabel Miliaran Namun Hancur Karena Obat-Obatan Terlarang

Sumber : LagardereSports.com

Tak gampang dilupakan bagi seorang Kurniawan Dwi Yulianto di masa terakhirnya bersama timnas di Piala AFF 2004. Ia menjadi Dewa Penyelamat sekaligus bintang di laga leg kedua dikala bertemu Malaysia. Bermain di Stadio Bukit Jalil, di mana Indonesia kalah 1-2 di leg pertama tentu bukan hal mudah.

Lantaran Indonesia harus unggul tiga gol biar berlaga di laga final. Berniat untuk menyalip kedudukan justru Indonesia malah tertinggal. Kemudian instruktur Peter White kala itu memasukkan nama Kurniawan. Benar saja kehadirannya membawa efek besar ketika membuka gol penting dan membawa alur permainan Indonesia lebih garang.

Terbukti Charis Yulianto, Ilham Jaya Kesuma, dan Boaz Solossa menambah keunggulan dan menciptakan Indonesia lolos ke babak final dengan skor final 1-4.

Sayangnya, Kawan Bertubuh Kurus Ini Akrab dengan Dunia Malam dan Obat-Obatan Terlarang

Hanya ada tiga mimpi yang diinginkan oleh Kurniawan Dwi Yulianto dikala menjadi pesepakbola  Si Kurus, Pemain Berlabel Miliaran Namun Hancur Karena Obat-Obatan Terlarang

Sumber : LagardereSports.com

“Waktu itu saya tidak peduli sama omongan orang. Tiap kali main, rasanya seisi stadion meneriaki nama saya, jelek-jelekin saya (karena narkoba). Tetapi saya tidak mau mendengarkan semua itu. Ini hidup saya. Saya punya kemampuan. Anda mau ngomong apa, saya ini seorang juara!” kata Kurniawan dilansir dari FourFourTwo.

Bakatnya yang bersinar jelas ternyata sulit untuk dimanfaatkan, alasannya Kurniawan yang bersahabat dengan dunia malam dan menjadi pengguna obat-obatan terlarang. Masa suram tersebut menciptakan Kurniawan dihujat banyak orang. Saat bergabung dengan PSM Makassar pun ia mendapat caci maki deras dari penonton.

Awal mula ia kenal Narkoba alasannya ia ingin bergaul lebih luas dengan mengenal banyak orang, Si Kurus semenjak kelas 3 Sekolah Menengah Pertama sudah berada di Mess dan ia merasa bergaul itu penting. Tetapi ia malah terbawa arus negatif dengan terjerat dunia narkoba.  Tetapi ia menentukan obat untuk bangkit, yang berjulukan prestasi.

“Ibu saya selalu bilang bungkam mereka dengan prestasi, ternyata itu obat saya untuk bangkit, dan terbukti semenjak saya bergabung dengan PSM dan kemudian kembali ke Timnas, hujatan-hujatan itu berhenti. Sekarang saya berpikir nakal itu wajar, buat pemain muda boleh nakal tapi pintar,” tambahnya.

“Tapi sebandel bandelnya saya, saya tidak pernah meninggalkan latihan. Boleh ditanya saya cukup betanggung jawab, tapi itu pembelajaran hidup saya. Bisa memberitahu adik adik saya kini jikalau hal-hal negatif ibarat itu sudah di luar kepala dan gak ada untungnya,” tandasnya dikutip dari Indosport.